Jakarta, 8 Mei 2026 – Kementerian Kesehatan mengungkapkan sebanyak 23 pasien yang terinfeksi hantavirus di Indonesia dilaporkan mengalami berbagai gejala mulai dari demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, hingga kondisi tubuh menguning.
Kasus hantavirus tersebut tercatat muncul dalam beberapa tahun terakhir dan tersebar di sejumlah wilayah Indonesia. Sebagian besar pasien diketahui berhasil pulih setelah mendapatkan penanganan medis dan pengawasan kesehatan secara intensif.
Pihak Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa gejala yang paling sering dialami pasien meliputi demam, tubuh terasa lemas, sakit kepala, nyeri badan, dan gangguan kondisi fisik secara umum.
Selain itu, beberapa pasien juga mengalami jaundice atau kondisi tubuh dan mata menguning yang menandakan adanya gangguan pada organ tertentu akibat infeksi virus tersebut.
Hantavirus merupakan penyakit yang umumnya ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus. Penularan dapat terjadi ketika manusia terkena paparan urine, air liur, feses, atau debu yang telah terkontaminasi virus.
Pemerintah menyebut seluruh kasus yang ditemukan di Indonesia berasal dari jenis Seoul virus, salah satu varian hantavirus yang cukup dikenal dalam dunia medis.
Meski sebagian besar pasien berhasil sembuh, beberapa kasus dilaporkan mengalami kondisi serius karena memiliki penyakit bawaan atau komplikasi kesehatan lainnya.
Kementerian Kesehatan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kasus hantavirus serta meningkatkan pengawasan di sejumlah daerah yang ditemukan laporan infeksi.
Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kebersihan lingkungan, terutama area yang berpotensi menjadi tempat berkembangnya tikus dan hewan pengerat lainnya.
Petugas kesehatan mengimbau warga untuk menggunakan pelindung seperti masker dan sarung tangan saat membersihkan gudang, loteng, atau area tertutup yang lama tidak digunakan dan berisiko terkontaminasi kotoran tikus.
Pengamat kesehatan menjelaskan bahwa hantavirus berbeda dengan penyakit pernapasan yang mudah menyebar antar manusia. Sebagian besar penularan terjadi akibat kontak dengan lingkungan yang tercemar virus dari hewan pengerat.
Kasus hantavirus kembali menjadi perhatian setelah sejumlah negara meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran penyakit tersebut di berbagai wilayah dunia.
Pemerintah Indonesia memastikan sistem pengawasan kesehatan terus diperkuat untuk mendeteksi kasus lebih awal dan mencegah penyebaran lebih luas di masyarakat.
Selain pengawasan medis, edukasi mengenai pola hidup bersih dan pengendalian populasi tikus juga dinilai menjadi langkah penting dalam mencegah munculnya kasus hantavirus di Indonesia.




