Jakarta, 23 Mei 2026 – Kebiasaan memendam emosi dalam jangka panjang kembali menjadi perbincangan setelah muncul anggapan di masyarakat bahwa stres dan tekanan batin yang tidak disalurkan dapat memicu penyakit serius, termasuk kanker. Banyak orang percaya bahwa emosi negatif seperti marah, sedih, kecewa, atau trauma yang terus ditekan dapat berdampak langsung terhadap munculnya sel kanker di dalam tubuh. Namun dokter spesialis onkologi menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa memendam emosi secara langsung menjadi penyebab utama kanker. Meski demikian, kondisi psikologis yang buruk tetap memiliki pengaruh terhadap kesehatan tubuh secara keseluruhan, terutama ketika stres berlangsung lama dan memengaruhi pola hidup seseorang.
Menurut dokter onkologi, kanker merupakan penyakit kompleks yang dipengaruhi banyak faktor seperti genetik, pola makan, gaya hidup, paparan zat berbahaya, kebiasaan merokok, infeksi tertentu, hingga faktor lingkungan. Emosi negatif atau stres berat memang dapat memengaruhi sistem tubuh, tetapi bukan berarti secara otomatis menciptakan sel kanker. Pengamat kesehatan menjelaskan bahwa stres kronis lebih sering berdampak pada penurunan daya tahan tubuh, gangguan tidur, peningkatan tekanan darah, hingga memicu perilaku tidak sehat seperti makan berlebihan, konsumsi alkohol, atau merokok yang justru menjadi faktor risiko penyakit serius. Karena itu, hubungan antara kesehatan mental dan penyakit fisik biasanya bersifat tidak langsung dan melibatkan banyak faktor lain.
Dokter juga menjelaskan bahwa orang yang terlalu sering memendam emosi cenderung mengalami tekanan psikologis berkepanjangan yang dapat memengaruhi kualitas hidup mereka sehari-hari. Dalam kondisi tertentu, stres emosional yang tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan gangguan kecemasan, depresi, kelelahan kronis, dan masalah kesehatan lain yang memengaruhi kondisi tubuh secara umum. Pengamat psikologi kesehatan menjelaskan bahwa tubuh manusia memiliki hubungan erat antara kondisi mental dan fisik melalui sistem hormon dan saraf. Ketika seseorang mengalami tekanan emosional terus-menerus, tubuh akan berada dalam kondisi siaga yang berkepanjangan sehingga memengaruhi metabolisme, kualitas tidur, dan keseimbangan hormon.
Di sisi lain, para ahli kesehatan menekankan pentingnya pengelolaan emosi dan kesehatan mental sebagai bagian dari gaya hidup sehat secara menyeluruh. Mengungkapkan perasaan dengan cara yang sehat, berbicara dengan orang terpercaya, berolahraga, beristirahat cukup, dan mencari bantuan profesional saat diperlukan dianggap sangat penting untuk menjaga keseimbangan psikologis. Pengamat kesehatan mental menjelaskan bahwa masyarakat modern sering menghadapi tekanan pekerjaan, hubungan sosial, dan tuntutan hidup yang tinggi sehingga banyak orang memilih memendam masalah demi terlihat kuat di hadapan orang lain. Padahal, kemampuan mengenali dan mengelola emosi secara sehat justru menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas hidup jangka panjang.
Dokter onkologi menegaskan bahwa memendam emosi bukan penyebab langsung kanker, namun kondisi stres berkepanjangan tetap tidak boleh dianggap sepele karena dapat memengaruhi kesehatan tubuh secara umum. Pengamat kesehatan menilai masyarakat perlu memahami perbedaan antara mitos kesehatan dan fakta medis agar tidak terjebak pada ketakutan yang tidak berdasar. Dengan menjaga kesehatan mental, menerapkan pola hidup sehat, dan rutin melakukan pemeriksaan medis, risiko berbagai penyakit dapat ditekan sekaligus membantu menjaga kualitas hidup yang lebih baik di tengah tekanan kehidupan modern yang semakin kompleks.







