Jakarta, 11 Mei 2026 – Kementerian Kesehatan mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap hantavirus yang dinilai memiliki risiko lebih tinggi muncul di lingkungan dengan populasi tikus yang tidak terkendali serta wilayah yang terdampak banjir. Peringatan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya perhatian terhadap kasus penyakit yang berasal dari hewan pengerat dan dapat menimbulkan gangguan kesehatan serius apabila tidak ditangani dengan cepat.
Menurut Kemenkes, hantavirus umumnya menyebar melalui paparan urine, air liur, atau kotoran tikus yang mengandung virus. Penularan dapat terjadi ketika partikel yang terkontaminasi terhirup manusia, terutama di lingkungan yang kotor, lembap, atau memiliki sanitasi buruk. Kondisi pascabanjir dinilai menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko karena air banjir sering membawa kotoran dan memperluas area persebaran tikus ke permukiman warga.
Pemerintah menilai perubahan kondisi lingkungan akibat banjir dapat memperbesar kontak antara manusia dan hewan pengerat. Saat banjir terjadi, tikus biasanya keluar dari sarang dan mencari tempat yang lebih kering, termasuk masuk ke rumah warga maupun fasilitas umum. Situasi tersebut membuat potensi penyebaran penyakit meningkat apabila kebersihan lingkungan tidak segera dipulihkan setelah banjir surut.
Gejala hantavirus sendiri dapat bervariasi mulai dari demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, hingga gangguan pernapasan yang dalam kondisi berat dapat berkembang menjadi komplikasi serius. Karena gejalanya pada tahap awal sering menyerupai penyakit lain, masyarakat diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan setelah terpapar lingkungan yang berisiko tinggi terhadap tikus atau pascabanjir.
Pengamat kesehatan masyarakat menilai persoalan penyakit yang berasal dari hewan pengerat masih menjadi tantangan di banyak wilayah perkotaan dan daerah padat penduduk. Pengelolaan sampah yang buruk, saluran air tersumbat, serta lingkungan kumuh sering menjadi faktor yang mendukung berkembangnya populasi tikus. Karena itu, pencegahan tidak cukup hanya melalui penanganan medis, tetapi juga harus dibarengi perbaikan sanitasi dan kebersihan lingkungan secara menyeluruh.
Kemenkes juga mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati saat membersihkan rumah atau area yang sempat terendam banjir. Penggunaan masker, sarung tangan, dan cairan disinfektan dianjurkan untuk mengurangi risiko terpapar partikel yang mungkin terkontaminasi virus. Warga juga diminta tidak menyentuh bangkai tikus secara langsung dan segera membersihkan area yang menjadi sarang hewan pengerat di sekitar lingkungan tempat tinggal.
Di tengah meningkatnya mobilitas dan perubahan kondisi cuaca yang ekstrem, pemerintah menilai edukasi mengenai penyakit zoonosis seperti hantavirus menjadi semakin penting. Masyarakat diharapkan lebih sadar terhadap pentingnya menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar sebagai langkah utama pencegahan penyakit. Dengan kewaspadaan dan penanganan yang cepat, risiko penyebaran hantavirus di lingkungan masyarakat diharapkan dapat ditekan dan tidak berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih luas.







