Jakarta, 18 Mei 2026 – Dunia medis resmi mengganti istilah PCOS atau Polycystic Ovary Syndrome menjadi PMOS yang merupakan singkatan dari Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome. Pergantian nama ini diumumkan setelah lebih dari satu dekade diskusi global antara dokter, peneliti, dan organisasi kesehatan internasional yang menilai istilah lama sudah tidak lagi menggambarkan kondisi sebenarnya secara menyeluruh. Selama ini banyak orang mengira PCOS hanya berkaitan dengan kista ovarium, padahal gangguan tersebut sebenarnya merupakan masalah hormonal dan metabolik kompleks yang memengaruhi berbagai sistem tubuh. Nama baru PMOS diharapkan membantu meningkatkan pemahaman masyarakat sekaligus mempercepat diagnosis dan penanganan pasien yang selama ini sering terlambat dikenali.
Pengamat kesehatan reproduksi menjelaskan salah satu alasan utama perubahan nama adalah karena tidak semua pasien memiliki kista ovarium, sementara gangguan metabolisme dan hormonal justru menjadi inti utama kondisi tersebut. Dalam istilah baru, kata “polyendocrine” menekankan bahwa gangguan ini melibatkan banyak sistem hormon tubuh, sedangkan “metabolic” menunjukkan adanya kaitan kuat dengan metabolisme seperti resistensi insulin dan peningkatan risiko diabetes. Adapun kata “ovarian” tetap dipertahankan karena kondisi ini masih berkaitan dengan gangguan fungsi ovarium dan kesuburan perempuan. Dengan nama baru tersebut, dokter diharapkan tidak lagi hanya fokus pada masalah reproduksi, tetapi juga kesehatan tubuh secara menyeluruh.
Meski namanya berubah, gejala PMOS pada dasarnya masih sama seperti yang selama ini dikenal pada PCOS. Gejala paling umum meliputi menstruasi tidak teratur, sulit hamil akibat gangguan ovulasi, jerawat berlebihan, pertumbuhan rambut berlebih di wajah atau tubuh, kenaikan berat badan, hingga rambut rontok atau menipis di area kepala. Selain itu, banyak penderita juga mengalami resistensi insulin yang membuat risiko diabetes tipe 2, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, dan penyakit jantung meningkat. Beberapa pasien bahkan mengalami gangguan suasana hati seperti kecemasan dan depresi akibat perubahan hormon dan tekanan psikologis dari kondisi yang sering sulit dipahami lingkungan sekitar.
Para ahli juga menekankan bahwa PMOS tidak selalu mudah dikenali karena gejalanya bisa berbeda pada setiap orang. Ada pasien yang mengalami berat badan berlebih, tetapi ada pula yang tetap memiliki tubuh kurus namun tetap mengalami gangguan hormon dan ovulasi. Bahkan sebagian perempuan masih mengalami menstruasi yang tampak normal meski sebenarnya kualitas ovulasi terganggu. Karena itu, dokter kini mendorong pemeriksaan lebih menyeluruh apabila seseorang mengalami gejala seperti jerawat hormonal, rambut berlebih, gangguan siklus haid, atau kesulitan memiliki anak. Diagnosis sendiri hingga saat ini masih menggunakan kriteria medis yang sama seperti sebelumnya sambil menunggu penyesuaian global terhadap penggunaan istilah PMOS.
Perubahan istilah dari PCOS menjadi PMOS kini dianggap sebagai langkah besar dalam dunia kesehatan perempuan karena membantu menghapus kesalahpahaman lama mengenai penyakit tersebut. Banyak organisasi kesehatan berharap nama baru ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa kondisi tersebut bukan hanya persoalan ovarium, tetapi juga menyangkut kesehatan metabolik, hormonal, mental, dan kualitas hidup jangka panjang. Di tengah meningkatnya kasus gangguan hormon pada perempuan usia produktif, edukasi dan deteksi dini dinilai menjadi langkah penting agar penderita memperoleh penanganan lebih cepat dan tepat.







