Jakarta, 9 Mei 2026 – Banyak orang pernah mengalami kondisi ketika perut sebenarnya sudah kenyang, tetapi pikiran terus memikirkan makanan dan muncul keinginan makan lagi. Dalam dunia kesehatan dan psikologi, kondisi ini mulai dikenal dengan istilah “food noise”, yaitu dorongan mental yang terus-menerus terkait makanan meski tubuh tidak benar-benar lapar.
Fenomena food noise kini semakin sering dibahas karena dianggap berkaitan dengan pola hidup modern, stres, kebiasaan konsumsi digital, hingga gangguan pola makan. Seseorang yang mengalami food noise biasanya terus memikirkan makanan tertentu, merasa sulit berhenti ngemil, atau terdorong makan karena faktor emosional, bukan kebutuhan fisik tubuh.
Pakar kesehatan menjelaskan bahwa rasa lapar sebenarnya tidak hanya dipengaruhi kondisi perut, tetapi juga otak dan emosi. Stres, kecemasan, kurang tidur, hingga paparan konten makanan di media sosial dapat memicu keinginan makan berlebihan meski tubuh sudah mendapatkan asupan yang cukup.
Selain faktor psikologis, food noise juga bisa dipengaruhi pola makan yang tidak seimbang. Konsumsi makanan tinggi gula dan rendah protein misalnya, dapat membuat rasa kenyang tidak bertahan lama sehingga otak terus mencari kepuasan melalui makanan tambahan.
Pengamat kesehatan mental menilai fenomena ini penting diperhatikan karena dapat berdampak pada kesehatan fisik maupun emosional. Jika terjadi terus-menerus, food noise berpotensi memicu makan berlebihan, kenaikan berat badan, gangguan pola makan, hingga rasa bersalah setelah makan.
Para ahli menyarankan beberapa langkah sederhana untuk membantu mengurangi food noise, seperti menjaga pola tidur, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, memperbanyak protein dan serat, serta membatasi kebiasaan melihat konten makanan secara berlebihan di media sosial.
Selain itu, aktivitas seperti olahraga ringan, meditasi, dan mengelola stres juga dinilai membantu mengurangi dorongan makan emosional. Masyarakat juga diingatkan untuk mulai mengenali perbedaan antara lapar fisik dan lapar emosional agar pola makan tetap sehat dan terkontrol.
Di tengah gaya hidup modern yang serba cepat dan penuh distraksi digital, kesadaran terhadap hubungan antara kesehatan mental dan pola makan dinilai semakin penting. Memahami fenomena food noise dapat membantu masyarakat lebih bijak menjaga keseimbangan tubuh dan pikiran dalam kehidupan sehari-hari.







