Jakarta, 23 Mei 2026 – Dinas Kesehatan Provinsi Aceh mengungkap masih tingginya jumlah anak yang belum pernah menerima imunisasi sama sekali atau masuk kategori zero dose di wilayah tersebut. Dalam periode 2021 hingga 2025, tercatat sekitar 281 ribu anak di Aceh belum mendapatkan imunisasi dasar, sebuah angka yang kini menjadi perhatian serius di tingkat nasional. Kondisi ini membuat Aceh masuk dalam kelompok daerah dengan capaian imunisasi bayi lengkap terendah di Indonesia. Pengamat kesehatan masyarakat menjelaskan bahwa imunisasi merupakan salah satu langkah paling penting dalam mencegah penyebaran penyakit menular berbahaya pada anak, sehingga rendahnya cakupan imunisasi dapat meningkatkan risiko munculnya wabah penyakit yang sebenarnya bisa dicegah sejak dini.
Menurut Dinas Kesehatan, salah satu penyebab utama masih tingginya angka zero dose di Aceh adalah penolakan dari keluarga, khususnya dari pihak ayah yang memiliki pengaruh besar dalam pengambilan keputusan rumah tangga. Hasil survei yang dilakukan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia bersama Universitas Syiah Kuala menunjukkan bahwa banyak orang tua masih merasa khawatir terhadap efek samping imunisasi seperti demam atau anak menjadi rewel setelah vaksin diberikan. Selain itu, masih berkembang berbagai informasi keliru dan teori konspirasi mengenai vaksin yang membuat sebagian masyarakat enggan membawa anak mereka ke layanan imunisasi. Pengamat kesehatan sosial menjelaskan bahwa persoalan imunisasi di beberapa daerah bukan lagi sekadar soal akses layanan kesehatan, tetapi juga berkaitan erat dengan faktor budaya, pola pengambilan keputusan keluarga, dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap informasi kesehatan modern.
Dinas Kesehatan Aceh juga menyoroti masih kurangnya pemahaman masyarakat mengenai manfaat imunisasi dasar bagi anak-anak. Banyak orang tua disebut belum memperoleh informasi yang utuh mengenai pentingnya vaksinasi dalam melindungi anak dari penyakit berbahaya seperti campak, polio, difteri, hingga hepatitis. Pengamat epidemiologi menjelaskan bahwa anak-anak yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap memiliki risiko jauh lebih besar mengalami infeksi serius dan dapat menjadi titik penyebaran penyakit di lingkungan sekitar. Dalam jangka panjang, rendahnya cakupan imunisasi juga dapat menghambat target kesehatan nasional karena herd immunity atau kekebalan kelompok menjadi sulit tercapai apabila terlalu banyak anak yang belum divaksinasi.
Di sisi lain, pemerintah dan tenaga kesehatan kini menghadapi tantangan besar dalam membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi, terutama di wilayah yang masih kuat dipengaruhi informasi nonmedis dan ketakutan terhadap vaksin. Pengamat komunikasi kesehatan menjelaskan bahwa pendekatan kepada masyarakat tidak bisa hanya dilakukan melalui kampanye formal, tetapi juga harus melibatkan tokoh agama, tokoh adat, dan figur masyarakat yang dipercaya warga setempat. Pendekatan berbasis keluarga dinilai penting karena keputusan imunisasi di banyak daerah sering kali dipengaruhi struktur sosial dan budaya dalam rumah tangga. Selain itu, edukasi yang lebih humanis dan mudah dipahami masyarakat dianggap lebih efektif dibanding pendekatan yang terlalu teknis atau administratif.
Tingginya jumlah anak zero dose di Aceh menunjukkan bahwa tantangan imunisasi di Indonesia masih cukup kompleks dan membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak. Pengamat kesehatan masyarakat menilai persoalan ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan menyediakan vaksin dan layanan kesehatan, tetapi juga memerlukan penguatan edukasi, komunikasi publik, dan pendekatan sosial yang lebih mendalam kepada masyarakat. Dengan kerja sama antara pemerintah, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, dan keluarga, cakupan imunisasi di Aceh diharapkan dapat meningkat sehingga anak-anak memperoleh perlindungan kesehatan yang lebih baik di masa depan.







